SAHABAT DUNIA DAN AKHIRAT

SAHABAT-DUNIA-AKHIRAT

Indah dan Dina, adalah dua sahabat yang telah 9 tahun bersahabat. Mereka sudah seperti kakak dan adik. Dimana ada Indah disitulah selalu ada Dina.

Indah dan Dina bersahabat sejak mereka sama-sama duduk dibangku sekolah menengah atas (SMA). Mereka pun terkenal sebagai siswi-siswi yang pintar di sekolahnya. Dan mereka pun selalu menduduki peringkat tiga besar di kelasnya.

Sampai mereka menjadi wanita karir dengan jalan profesinya masing-masing, mereka tetap saling mendukung. Mereka berdua adalah sahabat yang saling mendukung satu dengan yang lainnya. Mereka saling mendukung dalam hal karir, kerjaan, ataupun hal-hal yang baik lainnya.

Indah mengenakan hijab dalam kesehariannya. Tetapi tidak dengan Dina. Dina belum mengenakan hijab. Dan masih berpakaian serba terbuka jika mereka sedang berkumpul bersama teman-teman nya yang lain. Indah sebagai sahabat Dina sudah pernah mengingatkan kepada Dina perihal wajibnya menutup aurat sebagai seorang wanita muslim. “Din, apakah kamu tidak ada keinginan untuk berhijab?” kata Indah kepada Dina suatu hari. “A­ku belum siap jika harus menutup aurat dengan berhijab, Indah. Aku saja sholatnya masih suka bolong-bolong. Aku tidak seperti dirimu yang selalu sholat 5 waktu dimanapun dan kapanpun.” Mendengar perkataan sahabatnya tersebut, Indah kembali menasihatinya dengan lemah lembut “Dina sahabatku sayang, berhijab itu bukan perkataan “saya sudah siap” atau “saya belum siap” tetapi berhijab itu adalah kewajiban langsung dari Allah. Sudah ada perintahnya untuk para muslimah dalam Al-Qur’an.” Mendengar perkataan Indah, Dina hanya diam saja.

Indah sudah sering sekali mengajak Dina menuju perubahan kepada jalan kebaikan dengan berhijab. Karena Indah ingin bersahabat dengan Dina tidak hanya di dunia saja, namun juga bersahabat hingga menuju ke surga-Nya.

Suatu hari, Dina pulang dari kantor seorang diri dengan menggunakan angkot. Biasanya Dina naik mobil pribadi untuk pulang dan pergi ke kantornya. Dan Indah pun terkadang suka diajak untuk pulang bersamanya dengan mobil pribadinya karena kantor mereka jaraknya berdekatan. Dina pulang larut malam dari kantornya. Di perjalanan pulang dalam angkot, dia diganggu oleh 2 orang seperti preman. “Hai cantik, kok sendirian aja nih pulangnya? Mau abang temenin gak? Aduh kulitnya mulus banget sih. Rambutnya juga bagus. Kayak artis deh Neng. Ikut abang aja yuk!” Kata preman-preman itu kepada Dina. “Heh, pergi kalian semua dari hadapanku!” Akhirnya Dina berkata sambil memukul preman-preman itu dengan sekuat tenaga dan seluruh keberanian yang ada pada dirinya. Dina turun dari angkot tersebut di pertigaan jalan. Dina langsung menelefon sahabatnya, yakni Indah. “Halo, Indah. Tolong Aku, Ndah. Aku hampir saja digoda preman. Sekarang aku di pertigaan jalan dekat rumah mu.” “Oke, Din 10 menit lagi aku sampai. Kamu tunggu ya!” akhirnya dengan secepat kilat Indah langsung menuju ke pertigaan jalan yang dimaksud Dina. Disana ia melihat Dina tengah duduk sambil menangis. Indah menghampiri Dina dan langsung memeluknya. “Ya ampun, Din kenapa bisa jadi begini, sih? Harusnya kalau kamu pulang larut malam telfon aku. Nanti aku yang akan menjemputmu di kantor. Kita kan biasa pulang bersama. Kalau gak kamu yang jemput aku, ya aku yang jemput kamu. Kamu kan sahabatku, Din” kata Indah sambil memeluk dan menenangkan Dina yang sedang menangis. “Iya, Ndah maafin aku yang gak kabarin kamu tadi. Aku pikir aku bisa pulang sendiri. Oh, Iya aku jadi teringat sama nasihat kamu akan betapa pentingnya berhijab. Berhijab benar untuk melindungi diri kita dari godaan laki-laki nakal. Aku sadar kenapa gak dari dulu aja aku kayak kamu untuk berhijab. Aku selalu tidak menghiraukan nasihat kamu, Ndah. Padahal kamu udah selalu sabar nasihatin aku untuk terus mengenakan hijab dan berpakaian muslimah. Maafin aku ya, Ndah. Aku mau berubah menjadi wanita muslimah yang lebih baik. Aku ingin seperti kamu, Ndah. Kamu gak hanya cantik wajah tetapi hati dan perilaku kamu juga cantik. Aku mau berhijab kayak kamu, Ndah.” Mendengar perkataan sahabatnya tersebut, Indah menangis dan berkata “Subhanallah, Allah telah memberimu hidayah, Dina. Aku bangga sama kamu. Kamu mau berubah kearah yang lebih baik. Insya Allah kita akan terus bersahabat. Bahkan kita akan sama-sama pula menjadi calon penghuni surga-Nya Allah ya. Aku ingin bersahabat denganmu gak hanya di dunia aja tetapi juga di akhirat nanti. Aamiin.” Akhirnya setelah kejadian itu, Dina berubah menjadi wanita yang lebih baik. Dina mengenakan hijab, berpakaian menutup aurat, serta sholatnya pun selalu tepat waktu dan tidak pernah bolong-bolong lagi. Sungguh Allah lah yang telah memberinya hidayah. Dan Dina beruntung mempunyai sahabat sejati seperti Indah. Sahabat sejati yang ingin bersama-sama dengannya menuju keridhoan Ilahi. Menuju kepada jalan-Nya yang benar.

Sekian

Penulis : Rachmah Dewi

Twitter : @R_Dhewie75

Instagram : rachmah_dewi

Tags:

Leave a Response