Pelangi Hijab

pelangi hijabLulu Erzed,
Perkembangan zaman memang tidak akan berujung jika dibicarakan.

 

-Tahun 2003-

“Sepertinya kita semakin cantik kalau seperti ini.”, Kata Nadia sambil menata poni rambut merahnya.
“Nad, kamu kok jadi ikut-ikutan Zizi sih. Kemarin aku lihat dia ditegur Pak Lana.”, Protes salah satu siswa putra yang melihat kesibukan Nadia menata poni rambutnya.
Sejak saat itu banyak murid putri yang mulai bangga memamerkan model hijab terkininya. Memang tidak semuanya, namun hanya beberapa saja yang tidak.
Keadaan seperti ini semakin membuat waka kesiswaan semakin risih melihatnya. Ya, Pak Lana. Bukan sekali dua kali saja beliau menegur murid putri. Mungkin sampai-sampai beliau kaku hatinya.
“Enak ya rambut kamu poninya lurus, jadi poninya bagus. Nah aku, rambutku saja keriting begini.”, Kata Nadia sembari menekuk wajahnya di depan Zizi.

 

“Mending kamu rebonding saja Nad.”
Sesontak Nada terbelalak. “Oh, boleh juga.”
Keesokan harinya penampilan Nadia sudah berubah jauh lebih dari kemarin. Begitu mudahnya Ia meminta uang pada Uminya dengan alasan fiktif yang dibuatnya.
Sebulan dua bulan ini Pak Lana diam. Tidak angkat bicara apapun. Beliau memang sengaja membiarkan mereka seberapa lama akan bertahan dan sejauh mana mereka mengreasikan hijabnya.

***

“Diberitahukan kepada seluruh siswi putri untuk tidak pulang terlebih dahulu, diharapkan berkumpul di musholla pada jam 13.00”, Pengumuman central itu terdengar seusai bel jam pelajaran berakhir.
“Jadi dengan cara seperti ini kalian untuk tampil cantik ?”, Gelegar suara Pak Lana siang itu. Seluruh siswi diam, nada Pak Lana memang sedikit keras. Tak ada sesimpul senyum nampak di raut wajahnya.
“Baaa..Bapaak.”, Sela Nadia.
“Diaaam sebentar ! Disini bapak hanya ingin memperingatkan kalian, bahwasanya rambut itu termasuk aurat bagi wanita. Tidak selayaknya kalian berhijab dengan model seperti ini. Kalian bapak bolehkan memakai poni rambut palsu atau memakai kain beli di pasar sana ! Asal tidak memakai rambut kalian yang harusnya kalian jaga.”
“Hahahahaha”, Seisi musholla saat itu hening mengernyitkan dahi, hanya saja Zizi yang terbahak geli disana.
“Ada-ada saja Pak Lana”, Bisik Nadia.
Seusai pertemuan siang itu dengan sedikit pencerahan dari pak Lana. Mereka pun bubar dengan memikirkan esok hari style mereka harus seperti apa. Dan sejak saat itu memang sedikit dari siswi yang mau merubah model jilbabnya. “Ah biarlah”, mungkin itu yang ada dalam hati Pak Lana. Sudah lelah menegur mereka.

***

 

-Tahun 2013-

Sudah tiga tahun lalu Pak Lana dipanggil Allah untuk menghadap-Nya. Nadia dan Zizi pun telah mengetahui kepergian beliau. Sekarang mereka sudah berumur 25 tahun. Semakin dewasa, kecantikan mereka semakin terlihat. Aus bocah remaja yang seperti dulu pun sudah lama mereka hilangkan.
“Aku rindu Pak Lana Zi.”, Nostalgia Zizi dan Nadia seusai pemotretan di studio sore itu.
Saat ini Zizi dan Nadia sudah menjadi pelangi bagi dunia Islam di luar sana. Dengan kesuksesan mereka menjadi model hijab muslimah, bahkan sudah memegang tropi “the best couple beauty hijab muslimah” tetap dengan style hijab berponi, namun sudah tidak dengan poni rambut asli mereka. Sudah jelas ini pasti ada secuil berkat do’a Pak Lana. Apa yang dikatakan guru itu memang benar adanya. Mungkin memang tidak langsung saat itu, tapi suatu saat. Yakinlah.

Leave a Response