Pesona Hutan Hujan Tropis Balikpapan

eksplore balikpapanSudah pernah travelling keluar Jawa belum nih, sahabat Saqinah?

Indonesia itu besar lho.
Lebih dari 3000 pulau terbentang luas dari Sabang sampai Merauke.
Kalau cuma lihat Pulau Jawa mana ada serunya?
Yuk, ke Balikpapan.

Mendarat di Bandara Udara Sepinggan pukul 1 siang atau lebih cepat satu jam dari waktu di Jakarta yang masih pukul 12. Udara sangat terik. Kata salah satu pramugari yang memberi tahu bahwa pesawat telah mendarat tadi mengatakan bahwa udara terukur mencapai 32 derajat celcius. Waah, fiuuh, itu panas lho..

20150228_134946

Setelah membaca papan besar yang menggantung di tengah bandara barulah saya tahu kalau nama bandara ini telah diubah menjadi Haji Muhammad Ali Sepinggan sejak tahun lalu. Bandara yang luas sekali. Tidak banyak penumpang berlalu lalang menambah kesan bahwa bandara ini sepi untuk ukurannya. Warna putih mendominasi, modern juga elegan. Tiba-tiba saya teringat Bandara Kansai di Osaka, Jepang yang setidaknya punya persamaan dengan Sepinggan ini.

Mobil jemputan dari hotel membawa saya melewati bagian depan bandara ini secara utuh. Telihat bahwa desain arsitektur bangunan itu juga indah dilihat dari luar. Bapak yang membantu menyupir mobil menjelaskan bahwa bandara itu adalah bangunan baru. Bangunan lama tepat berada di sebelahnya justru lebih tradisional dengan atap berbentuk khas rumah adat Balikpapan. Bapak supir menyayangkan bangunan lama itu tidak difungsikan secara maksimal lagi dan nampak dibiarkan saja.

IMG_4803

Sahabat saya, Nila, yang asik bercengkrama dengan mbak google sedang mencari tahu destinasi mana yang asik untuk dikunjungi. Semua kawasan wisata di Balikpapan dia catat di kertas kecil dan bermimpi mendatangi semuanya. Hehe, agak maruk sih, padahal cuma setengah hari bisa jalan-jalan. Gambar pantai Lamaru, Melawai atau Manggar yang disuguhkan mbak google sebenarnya kurang menarik dibanding yang pernah kami datangi di Jogjakarta. Sampailah pada keputusan untuk menuju ke Bukit Bangkirai.

Tidak heran kan dengan pilihan destinasi kami melihat sehari-hari kesibukan kami ada di Jakarta. Kota metropolitan penuh polusi dan sesak dengan aktivitas manusia serta macet. Wisata alam begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda :p

Sebelumnya kami telah diperingatkan bahwa perjalanan ke Bukit Bangkirai memakan waktu sekitar 1,5 jam. Tapi seolah terhipnotis dengan apa yang kami lihat dari mbak gooogle, hal itu tidak dipedulikan. Toh yang nyetir pak supir, kami kan tinggal duduk diam di mobil, hihihi…

Selama perjalanan saya habiskan waktu dengan melanjutkan melahap buku Api Tauhid karangan Habiburrahman El Shirazy yang baru seperempat terbaca. Nila dan Mbak Dini di kursi tengah asik memandang keluar jendela sambil sesekali berkutat dengan gadgetnya. Dijalan kami ditemani hujan rintik-rintik yang tetiba turun lalu berhenti. Lalu tiba-tiba pula hujan turun deras yang cuma sekilas seolah terbawa angin saja. Tanpa sadar kami tertidur beberapa saat. Ketika bangun Pak supir menginformasikan bahwa kita sampai di perbatasan Samboja.

Tidur lagi bangun lagi dan masih belum sampai. Kami melewati gerbang bertuliskan Selamat Datang di Kutai Kertanegara. Sudah 1,5 jam tapi masih belum sampai. Kata pak supirnya, jalanan yang becek bikin licin jadi ngga berani jalan cepet, terlebih jalanannya sudah tambah banyak yang rusak berlubang. Alhasil kami sampai di Bukit Bangkirai pukul 3 sore dengan dua jam perjalanan.

Jadiii, Bukit Bangkirai ini adalah hutan hujan tropis yang dikelola oleh PT. Perhutani II yang memang dijadikan destinasi wisata. Tentu saja tidak hanya wisata, pada dasarnya ini adalah sebuah proyek besar pemerintah. Letaknya 414 di atas permukaan laut. Berbukit-bukit dan hijau sepanjang jalan. Tumbuhan khas negara tropis subur disini. Suasana ini mengingatkan saya dengan jalanan ke arah Gunung Kidul, Jogjakarta, saat mencari Gunung Api Purba.

IMG_4997

Perjalanan di Bukit Bangkirai dimulai dengan masuk ke trek pertama sepanjang 150m. Treknya dinamai berdasar nama orang yang . Trek pertama ini bernama. Rimbun sekali disini. Pohon tinggi besar yang tak terhitung jumlahnya tertanam di hutan ini. Jalan setapak yang dipakai berjalan basah oleh bekas hujan menimbulkan becek dan genangan air di kanan kiri. Agaknya Nila salah kostum. Ia memakai sepatu dengan heels tebal setinggi 4cm. Tapi sahabat saya yang satu itu seolah tak peduli dan enak saja berjalan di atas tanah becek dan liat di hutan ini. Terlebih dialah yang semangat memilih ke destinasi ini sejak awal, hehe…

Beberapa pohon diberi papan nama. Dari situlah kami tahu bahwa beberapa pohon disini diadopsi sejak 10 atau 15 tahun yang lalu. Sistem adopsi ini dilakukan saat penanaman kembali hutan hujan tropis kala itu. Beberapa orang seperti dan juga mengadopsi atau menanam pohon itu dulu. Kini mungkin mereka akan bangga dan terharu melihat tunas tanaman yang mereka tanam bisa tumbuh kokoh menjulang tinggi sebagai pohon yang kuat. Jadi pengen suatu saat nanti jika ada acara serupa, saya ikut mengadopsi pohon, hmm…

Papan nama di depan beberapa pohon, selain informasi pohon adopsi, juga adalah papan info tentang jenis pohon, varietas, fungsi, dan nama latinnya. Pohon Maribu misalnya. Pohon ini . Kemudian yang menarik adalah pohon Jungkung. Dari informasi yang bisa dibaca, getah pohon ini dipakai untuk membuat permen karet doublemint yang terkenal itu lho.. Jadii, permen karet dibuat dari getah? Baru tau :p

Bangkirai itu sendiri ternyata nama sebuah pohon. Pohon yang menjadi nama wisata ini dipilih karena keunikannya. Bernama latin. Pohon ini tumbuh besar sampai berdiameter

Baru selesai di satu trek, hujan turun dengan derasnya. Alhamdulillah di setiap akhir trek disediakan pondok singgah. Kami berteduh disitu. Kami melihat tulisan trek kedua bernama sepanjang 300m disebelah kanan. Nampaknya saya harus bersabar dulu menanti hujan sedikit reda. Tanpa sadar saya menepuk punggung tangan karena merasa gatal. Rupanya nyamuk. Iya, tentu saja. Ini hutan. Nyamuk atau serangga dan hewan-hewan lain khas ‘penunggu’ hutan pasti banyak. Baru teringat kata-kata pak supir yang saya tertawakan tadi ketika menyuruh saya membawa autan, huhuu…

Kami meneruskan masuk ke trek kedua. Hujan sedikit tertahan nampaknya. Seperti tidak ingin semuanya turun dalam sekali guyuran. Rintik-rintik masih bisa saya rasakan menetes dari ujung daun di atas pohon. Karena rimbunnya hutan ini, mungkin hujan ringan yang tersisa tadi menjadi rerintikan saja yang masuk ke dalam hutan dan mengenai kami.

Dengan sedikit mempercepat langkah akhirnya di ujung trek kedua ini kami mendapati sebuah gapura dari kayu bertuliskan Canopy Bridge. Tiket masuk Canopy Bridge untuk wisatawan lokal sebesar 25ribu rupiah dan mancanegara 75ribu rupiah. Sistem yang adil. Kamipun masuk.

Dari bawah kami melihat empat buah jembatan kecil yang hanya cukup untuk satu orang bergelayut di atas. Disatukan dengan tali temali. Setiap ujungnya terdapat rumah pohon untuk pos panduan. Panjang jembatan itu berbeda-beda.

Kami naik ke atas melalu sebuah tangga berputar mengelilingi pohon bangkirai besar nan tinggi menjulang sekitar 20 meter dari permukaan tanah. Tangga itu juga terbuat dari kayu yang disinyalir terbuat dari pohon yang sama. Setelah sampai di atas, kengerian mulai nampak di wajah saya dan kedua teman saya itu. Belum apa-apa, Nila sudah menjerit-jerit. Entahlah, saya juga tak paham dengannya, haha…

IMG_5039

Karena tingginya canopy bridge ini, jika cuaca tidak mendukung atau kekuatan angin tiba-tiba meningkat, maka jembatan tidak boleh digunakan. Alhamdulillah saat itu hujan telah berhenti, awan hitam mulai beranjak ke barat seiring angin dan betapa beruntungnya kami karena di ujung pohon beberapa ratus meter dari jembatan terluar, pelangi menyambut kami.

Tidak banyak wisatawan berada di canopy bridge, karena setiap pos dikhususkan maksimal enam orang. Jembatan selebar kurang lebih 30cm dan sepanjang 7 meter kini terpampang nyata di depan kami. Saya jadi volunteer pertama yang menyeberang karena kedua teman saya itu masih berganti-gantian mengungkapkan ketakutannya. Ini seperti Marilyn Bridge di Bandungan, Semarang, yang juga saya dan Nila datangi beberapa waktu lalu. Hanya saya jembatan di Marilyn Bridge terbuat dari tali temali untuk pijakannya, terbentang seluas kurang lebih 5m dan kami dibekali pengaman berupa helm dan tali yang digantung diatas untuk membantu berjalan. Sedangkan Canopy Bridge ini tidak. Ia terbuat dari papan yang sudah berderit-derit bila dinaiki dan kita hanya berpegangan pada tali temali disamping kanan kiri jembatannya saja. Persamaannya adalah, kedua jembatan itu akan bergoyang saat dinaiki dan bikin merinding kalau pandangan kita tujukan ke bagian bawah. Haft…

Bersambung …

 

Leave a Response