Pesona Hutan Hujan Tropis Balikpapan part II

bukit bangkiraiTetapi setelah saya mencapai pertengahan jembatan Canopy itu, perasaan takut itu sekilas sirna karena ternyata tak terlalu seram seperti yang dibayangkan. Suasana di depan mata yang menawarkan pesona gradasi warna hijau dari ujung pohon juga membuat lupa bahwa saya tengah berjalan di atas jembatan. Saya beranikan diri membalik badan dan say “Hi!” kepada dua teman saya di ujung pos sambil sesekali sadar kamera karena Nila mulai mengeluarkan DSLRnya. Saya sempat (sok) menyemangati teman-teman dengan mengatakan ini ngga serem. Padahal yaah mungkin mereka ngga percaya karena semburat mimik merinding tampak di wajah saya, hahaha..

20150228_153054_1

Setelah sampai diujung pos satunya, selanjutnya Nila tengah berusaha melawan rasa takut di atas jembatan itu. Dilanjutkan oleh mbak Dini di belakangnya. Jembatan memang tidak boleh dinaiki lebih dari satu orang. Jadilah kami bergantian. Saya menyemangati dengan merekam adegan mereka berjalan di jembatan. Serius itu adalah bentuk penyemangat. Toh kalau direkam atau difoto dia akan mencoba terlihat (sok) enjoy dan menikmati padahal mah aslinya kagak, hahaha..

Sampailah kami bertiga di pos kedua. Iya sih, satu jembatan terlewati. Tapi masalahnya, jembatannya nggak cuma satu. Ada 3 jembatan lagi terbentang di depan. Itu berarti perjuangan kami belum berakhir. Karena tangga turun cuma ada di sisi ketiga yang berarti minimal kami harus satu kali naik jembatan lagi kalau mau turun. Kalau ngga mau turun ya gapapa ngga turun, disitu aja, hihihi…

Histeria dari beberapa orang di depan dan belakang kami juga nggak kalah heboh. Hutan yang tenang itu menjadi ramai beberapa saat. Di pos pemberhentian kedua, kami menghabiskan cukup waktu untuk mengabadikan momen. Yaah, apalagi kalau nggak foto-foto, hehe..

IMG_4863_1

Sungguh luar biasa ciptaan Allah SWT karena dari situ saja kami bisa melihat keindahan luar biasa alam yang dilukis Tuhan sesempurna ini. Warna biru langit bertemu warna hijau daun di garis horizon sepanjang mata memandang. Masih ditambah pula lekukan pelangi di ujung pohon dengan warna-warninya yang indah. Hei! Lihatlah dua bekantan yang tengah makan di atas pohon itu! Terlihat jelas dari atas sini. Udara segarnya bila dihirup dalam-dalam tidak akan membuatmu sesak seperti di Jakarta. Rerintikan hujannya bila mengenai wajahmu tidak akan membuatmu ingin segera mengusapnya karena hanya kesegaran yang terasa. Bukan lembab panas dan kotor seperti di kota besar. Ini sederhana tapi membuat saya banyak bertasbih dan bersyukur kepada Allah SWT. Diberi kesempatan menginjakkan kaki di tanah Borneo dengan hutan hujan tropisnya yang melegenda.

Angin bergerak ke arah jembatan lebih cepat dari sebelumnya. Para pemandu di pos-pos rumah pohon sudah mulai meminta kami turun. Dicukupkan saja dan segera kami turun lalu kembali masuk ke trek yang membawa kami keluar. Sampai di luar perut keroncongan membuat kami mampir di semacam pendopo makan walau hanya memesan mie goreng pake telor, hehe…

2015-03-02-23-56-59-322

Perjalanan pulang ke hotel juga tak kalah indah. Jam menunjukkan pukul 5.30 sore dan sebentar lagi matahari terbenam. Guratan warna jingga khas matahari akan tenggelam sudah mulai nampak. Tak hanya warna jingga, yang menambah decak kagum adalah warna merah jambu, biru, putih, kuning juga membentuk garis-garis wajah langit yang cantik. Di kanan kiri kami hamparan bukit hijau dan kami jelas melihat dari atas ada kabut putih berarak di ujung pohon-pohon perbukitan itu. Mahasuci Allah yang menciptakan langit dan bumi agar kita bersyukur. Di Balikpapan matahari tenggelam pukul 6.30 kala itu.

Udara malam berhembus meniup kota Balikpapan pukul 8. Kami sampai di sebuah toko oleh-oleh yang tak terlalu besar namun cukup banyak pembeli yang keluar masuk. Kata mbak berjilbab penjaga toko, yang khas disini ada lempok durian, amplang dan abon seafood seperti kepiting, ikan tuna dan ikan gabus. Dulu, mbak Dyah, salah satu teman di kos Putri Biru Jogja, sering membawa amplang setelah dia kembali dari mudik. Sejenis kerupuk ikan yang semasa kecil sering disebut kuku macan oleh ibuku. Kubeli tiga bungkus, walaupun sadar kalau itu akan kurang untuk dibagi-bagi, apalagi kalau aku sendiri tergoda membuka bungkus sebelum sampai rumah, hihihi… Akhirnya kutambahlah lempok durian dan abon-abonan seperti yang disarankan mbak-mbaknya tadi di daftar belanjaan.

Perjalanan pulang kembali ke hotel saat itu melewati pinggir pantai yang bernama Melawai. Jelas lautan tidak lagi terlihat karena hari telah gelap. Berdasar mbak google yang Nila telusuri tadi, Melawai malam hari akan berubah menjadi tempat ‘nongkrong’ anak mudanya Balikpapan dengan penjaja kaki lima yang berderet-deret memenuhi pinggir trotoar. Bahkan ada yang bilang Jimbaran-nya Balikpapan. Tapi, karena saat itu malam minggu, padat pengunjung pasti dan kami sudah tak antusias bergerumbul bersama anak-anak muda Balikpapan untuk makan disitu, akhirnya kami hanya lewat.

20150228_134656

Akhirnya kami makan malam di tempat yang disarankan oleh pacarnya Nila, Kepiting Saos Kenari. Beruntunglah karena arah tempat makannya sejalan dengan hotel kami. Tempatnya besar, tapi tidak terlalu istimewa. Sederhana dengan meja dan kursi dibungkus kain berwarna putih. Beberapa pengunjung yang lebih dulu datang menikmati hidangan seafood di meja mereka. Kami yang sedari tadi hanya makan mie instant di pendopo Bangkirai, pastilah sudah tak tahan ingin makan. Pilihan jatuh pada seporsi kepiting jantan dengan saos padang sebagai tambahannya. Nasi putih untuk tiga orang dan teh sebagai pelepas dahaga.

Awalnya kami ingin pesan juga setengah porsi kepiting telor. Tapi, dengan mengejutkan pelayan pencatat pesanan kami nyeletuk “Sudah tak ada mbak, Kepiting Telor sudah tak boleh masuk sama Bu Susi.” Langsung saya teringat wajah menteri kelautan yang gahar itu, Ibu Susi namanya. Saya adalah salah satu pengagum kebijakan dan keberanian beliau sebagai menteri baru yang tegas dan anti-mainstream mengatur teritori kelautan dan industri perikanan tersebut. Baiklah bu, tak apa kami tak makan kepiting telor kali ini :p

Leave a Response